BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kuliah Kerja Nyata (KKN) diartikan sebagai pengintegrasian secara menyeluruh baik dibidang keahliaan atau disiplin ilmu pengetahuan untuk mengaplikasikan teori-teori yang dimiliki ke dalam sebuah wujud nyata pengabdian kepada masyarakat. KKN merupakan program yang harus diikuti semua mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan akademik, dimana pelaksanaan KKN ini merupakan proses yang sangat penting terhadap kelangsungan proses akhir masa perkuliahan sebagai salah satu persyaratan dan kelulusan mahasiswa.
Dengan wahana KKN ini,mahasiswa diharapkan dapat mengaktualisasikan disiplin ilmu yang masih dalam tataran teoritis terhadap realisasi praktis dengan bentuk pengabdian langsung kepada masyarakat, di samping penelitian yang dilakukan sebagai usaha pengembangan ilmu yang didapat sebelumnya. Selain itu, KKN juga memiliki keterampilan dalam mengatasi dan meminimalisir masalah-masalah yang terjadi di tengah masyarakat sebagai media untuk belajar membangun hubungan yang integral dalam komunitas masyarakat, sebagai obyek utama yang akan dihadapi kelak setelah menyelesaikan studi.
KKN juga sangat besar manfaatnya bagi para mahasiswa maupun masyarakat pada umumnya, dimana KKN dilaksanakan demi mendapatkan pengalaman di lapangan karena mengandung makna yang sangat penting yaitu pendidikan dan pengabdian mahasiswa yang diwujudkan dalam pengenalan dan penghayatan tentang pembangunan masyarakat serta berusaha menciptakan metode-metode pemecahan berbagai masalah dengan menggunakan kemampuan dan keterampilan yang sangat tepat terhadap situasi yang berkaitan dengan perkembangan masyarakat dalam upaya menerapkan hasil kegiatan perkuliahan yang pernah ditempuh.
Keberadaan perguruan tinggi pada hakekatnya adalah memenuhi tuntutan dinamika pembangunan dan kebutuhan masyarakat di bidang jasmani dan rohani serta mahasiswa dituntut mampu membina, mengembangkan atau menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, agama dan seni kepada masyarakat melalui salah satu darma yang harus dilaksanakan secara institusional dan professional.
Kuliah pengabdian mahasiswa ini merupakan perwujudan dari partisipasi Perguruan Tinggi dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan pemberdayaan serta partisipasi masyarakat terhadap tuntutan kemajuan zaman melalui perkembangan IPTEK dan IMTAQ melalui mahasiswa. Dalam kegiatan ini, mahasiswa akan memiliki berbagai pengalaman, mulai dari berusaha untuk beradaptasi, bersosialisasi, dan saling membantu dalam menjalankan berbagai program kerja hingga memberikan solusi terhadap problematika yang timbul dalam internal peserta KKN maupun yang terjadi ditengah-tengah masyarakat majemuk. Oleh karena itu, sarana pengembangan akademis mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare perlu mengembangkan dan meningkatkan serta melaksanakan program aksinya sebagai perwujudan dari “Tri Dharma Perguruan Tinggi” yang utuh, sehingga bisa memahami dan menghayati fenomena sosial di masyarakat secara nyata, sebagai pengembangan program dalam proses belajar dan mengajarkan kepada mahasiswa dengan salah satu program yang cukup strategis adalah melalui KKN.
KKN mahasiswa STAIN Parepare sebagai bentuk pengabdiaan ilmu pengetahuan yang dilaksanakan oleh mahasiswa dengan bimbingan dari pihak dosen, masyarakat dan pemerintah setempat. Kuliah pengabdian mahasiswa ini merupakan gemblengan multi selektif kearah pengembangan, motivasi dan persepsi, dimana mahasiswa tersebut melaksanakan pengabdiannya.
Laporan ini merupakan dokumentasi kerja siswa dalam melaksanakan KKN di Desa Ciro-ciroe Kecamatan Watang Pulu Kabupaten Sidenreng Rappang.
Dasar dan Landasan KKN
Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen.
KEPMENKOWASBANGPAN Nomor 38 Tahun 1999, tentang Kedudukan dan Tugas Dosen.
Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan.
Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 1999, tentang Pendidikan Perguruan Tinggi.
Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Nomor 12/BAN-PT/Ak-X/S1/VI/2007, tentang Status Peringkat dan Hasil Akreditasi Program Sarjaana di Perguruan Tinggi.
Tujuan Pelaksanaaan KKN
Adapun tujuan penyelenggaraan KKN di Desa Ciro-ciroe, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang hendak dicapai diantaranya:
Menyamakan persepsi, sikap, dan langkah Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam optimalisasi pemberdayaan KKN yang berbasis sosial budaya dan keagamaan.
Memotivasi Mahasiswa KKN guna memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Meningkatkan dan mengoptimalilsasikan koordinasi keluarga, Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, Kecamatan/Desa, dan Instansi terkait lainnya.
Memberikan latihan dan bimbingan kepada mahasiswa sebagai calon guru bagi mahasiswa jurusan pendidikan dan calon konsultan hukum Islam khususnya dibidang ekonomi bagi mahasiswa jurusan syariah sehingga diharapkan dapat menjadi guru dan konsultan hukum yang mempunyai pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang berasas Islami.
Mengembangkan ilmu sesuai dengan bidangnya, memahami teknik-teknik memecahkan masalah, dan menguji teori-teori yang telah didapat mahasiswa di bangku perkuliahan serta mengetahui watak dan pribadi masyarakat.
Merumuskan masalah yang ada dan terjadi di masyarakat di Desa Ciro-ciroe, kemudian mencari dan memberikan solusi melalui program KKN yang pada akhirnya diinventariskan melalui laporan akhir sebagai persyaratan mata kuliah.
Manfaat Pelaksanaan KKN
Sesuai dengan tujuan diatas, maka manfaat yang ingin diperoleh dari kegiatan KKN di Desa Ciro-ciroe, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang diantaranya:
Bagi Mahasiswa
Mahasiswa mampu mengkolaborasikan dan mengaplikasikan teori-teori praktis yang dimiliki serta tentang cara bermasyarakat dikaitkan dengan ilmu-ilmu yang telah dpelajari selama mengikuti materi perkuliahan di STAIN Parepare.
Memperdalam pengertian mahasiswa tentang cara berfikir dan bekerja secara interdisipliner, sehingga dapat menghayati adanya ketergantungan, keterkaitan, dan bekerja antar sector.
Menambah pengetahuan tentang cara bermasyarakat yang sesuai dengan norma- norma yang berlaku di masyarakat, baik norma tersurat maupun tersirat.
Mencari, menemukan dan berusaha turut andil dalam memecahkan masalah dengan menerapkan konsep dan teori ilmiah yang telah dimiliki secara objektif komprehensif.
Bagi STAIN Parepare
Memperoleh umpan balik sebagai hasil pengintegrasian keilmuan mahasiswanya melalui proses pembanggunan fisik maupun non fisik ditengah-tengah masyarakat dan pembenahan masyarakat, sehingga kurikulum yang disusun di Perguruan Tinggi dapat disesuaikan dengan tuntutan yang ada di masyarakat sekarang dan yang akan datang.
Memperoleh berbagai kasus yang dapat digunakan sebagai contoh dalam memberikan materi perkuliahan dan menemuka berbagai masalah untuk pengembangaan penelitian.
Mewujudkan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi secara terpadu, selaras dan langsung kepada masyarakat.
Memantapkan program observasi pendidikan dan studi lapangan sebagai sarana belajar dan latihan pengabdian pada masyarakat dalam rangka menunjang pembangunan tepat guna.
Bagi Masyarakat dan Pemerintah
Memperoleh bantuan pemikiran dan tenaga serta ilmu, teknologi dan seni dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan yang diharapkan.
Membantu masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan pelaksanaan pembangunan dalam berbagai bidang terutama bidang pendidikan formal, non formal dan informal.
Meningkatkan kesadara masyarakat untuk aktif dan kreatif dalam pembangunan sesuai dengan program pemerintah daerah.
Masalah Utama di Lokasi KKN
Belum mengetahui peta lokasi Desa dengan baik dan jelas.
Kurangnya alat transportasi dalam menempuh jarak yang cukup jauh dari suatu tempat ke tempat lainnya.
Hampir setiap rumah masyarakat memiliki anjing sehingga menghalangi kami untuk berjalan lebih cepat.
Kurangnya partisipasi masyarakat untuk mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN.
Sulit untuk mengumpulkan masyarakat.
Lebih banyak bercanda dibanding memperhatikan pelajaran.
Minimnya waktu yang tersedia.
Kesulitan mengatur waktu.
Waktu dan Tempat Kegiatan
KKN Angkatan XX STAIN Parepare tahun 2016 dilaksanakan di Kabupaten Sidenreng Rappang mulai tanggal 11 Juli sampai dengan 24 Agustus 2016. Adapun Posko KKN Angkatan XX STAIN Parepare ditempatkan di Desa Ciro-ciroe, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang.
1.7 Sistematika Penulisan Laporan
Sistematika penulisan ini mengacu kepada acuan atau program yang disusun berdasarkan ketentuan - ketentuan yang diberikan oleh STAIN Parepare. Penulisan laporan ini menggunakan metode naratif deskriptif yaitu metode pemaparan dan menggambarkan data - data serta aspek pendukung yang sesuai dengan penelitian lapangan di tempat KKN, ditambah dengan penggunaan aspek wawancara dan profil Desa Ciro-ciroe Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Percikan Tinta
Senin, 11 September 2017
Minggu, 10 September 2017
Penelitian Tindakan kelas
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemimpin pendidikan tingkat satuan pendidikan, kepala sekolah bertanggung jawab penuh terhadap maju mundurnya sekolah yang dipimpinnya. Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk memperbaiki suatu praktik pembelajaran di kelas, agar makin banyak diminati.
Tidak sedikit tenaga pendidik melakukan PTK dalam upaya mengembangkan profesinya. Proses belajar mengajar yang konvensional dimana kegiatan pembelajaran berpusat pada pendidik perlu mengalami perubahan, pemahaman tentang seluk beluk inovasi pembelajaran harus dikuasai oleh seorang pendidik. Dalam hal ini penguasaan materi ajar, keterampilan pengelolaan kelas, dan strategi pembelajaran menjadi unsur penting yang harus diperhatikan.
Pembelajaran harus bisa mengoptimalkan fungsi peserta didik untuk menjadi keluaran yang berkualitas, peserta didik memiliki potensi untuk berkembang dan untuk itulah pendidik sebagai pengarah potensi itu, oleh karenanya pendidik bukan berperan sebagai pengendali kegiatan peserta didik, tetapi peserta didiklah yang mengalami bagaimana ia bekerja dalam arahan pendidik.
Oleh karena itu, penulis akan mengkaji lebih detail mengenai penelitian tindakan kelas. Juga sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa sebagai calon guru dan kemungkinan dalam penelitiannya mahasiswa akan memilih penelitian tindakan kelas.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas adapun rumusan masalah:
Bagaimana pengertian penelitian tindakan kelas?
Bagaimana tujuan, manfaat, karakteristik, prisnsip, syarat, dan model ptk?
Bagaimana perbedaan PTK dengan model Konfensional?
Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas adapun tujuan penelitian?
Mengetahui pengertian peneltian tindakan kelas.
Mengetahui tujuan, manfaat, karakteristik, prinsip, syarat, dan model PTK.
Mengetahui perbedaan PTK dengan model konfensional.
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Penulisan Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu penelitian yang dilakukan untuk memperbaiki keadaan kelas. Menurut Hopkins (1993) dalam Masnur Muslich (2014) bahwa:
PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif, yang dilakukan oleh pelaku tindakan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakannya dalam melaksanakan tugas dan memperdalam pemahaman terhadap kondisi dalam praktik pembelajaran.
Penelitian Tindakan Kelas juga merupakan suatu pencermatan kegiatan belajar berupa tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh pelaku PTK dengan arahan yang harus dilakukan oleh pembelajar atau peserta didik.
Lebih jelas Kurt Lewin (1982) dalam Esti Ismawati (2012) mengemukakan pengertian PTK dengan istilah Penelitian Kaji Tindak menurut prosesnya yaitu:
Penelitian kaji tindak terdiri atas analisis, pencarian fakta, kenseptualisasi, perencanaan tindakan, pencarian fakta lebih jauh atau evaluasi, dan pengulangan kembali siklus aktivitas ini secara keseluruhan.
Penelitian Tindakan Kelas sangat berkaitan erat dengan pembelajaran, yang menjadi permasalahan yang melatarbelakanginya adalah ketidak sesuaian antara teori pembelajaran dengan praktik, dan refleksinya dapat berupa strategi dan metode belajar, media belajar, sampai pada penilaian belajar.
Terdapat dua esensi dalam penelitian tindakan kelas, yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area, yaitu, untuk memperbaiki praktik, untuk pengembangan professional dalam arti meningkatkan pemahaman/kemampuan para praktisi terhadap praktik yang dilaksanakannya, dan untuk memperbaiki keadaan atau situasi dimana praktik tersebut dilaksanakan.
2.2 Tujuan, Manfaat, Karakteristik, Prisnsip, Syarat, dan Model PTK
2.2.1 Tujuan penelitian tindakan kelas
Penelitian pendidikan pada umumnya ditujukan untuk memperoleh landasan dalam mempertimbangkan suatu prosedur kerja, khususnya prosedur pembelajaran, menjamin cara kerja yang efektif dan efisien, memperoleh fakta-fakta tentang berbagai masalah pendidikan, dan menghindarkan sesuatu yang dapat merusak, serta meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan pembelajaran. Secara umum penelitian tindakan kelas bertujuan:
Memperbaiki dan meningkatkan kondisi-kondisi belajar serta kualitas pembelajaran.
Meningkatkan layanan professional dalam konteks pembelaaran, khhususnya layanan kepada peserta didik sehingga tercipta layanan prima.
Memberi kesempatan kepada guru berimprovisasi dalam melakukan tindakan pembelajaran yang direncanakan secara tepat waktu dan sasarannya.
Memberi kesempatan kepada guru mengadakan kajian secara bertahap kegiatan pembelajaran yang dilakukannya sehingga tercipta perbaikan yang berkesinambungan.
Membiasakan guru mengembangkan sikap ilmiah, terbuka dan jujur dalam pembelajaran.
Tujuan ini dapat dicapai dengan cara melakukan berbagai tindakan untuk memecahkan berbagai permasalahan pembelaj aran di kelas yang selama ini dihadapi, baik disadari atau mungkin tidak disadari. Oleh karena itu, fokus penelitian tindakan kelas adalah terletak kepada tindakan-tindakan altematif yang direncanakan oleh guru, kemudian dicobakan, dan dievaluasi untuk mengetahui efektivitas tindakan-tindakan Alternative itu dalam memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru.
Manfaat penelitian tindakan kelas
Manfaat PTK dapat dilihat dari dua aspek yakni aspek akademis dan aspek praktis. Aspek Akademis, manfaatnya adalah untuk membantu guru mengahasilkan pengetahuan yang shahih dan relevan bagi kelas mereka untuk memperbaiki mutu pembelajaran dalam jangka pendek. Adapun Manfaat Praktis dari pelaksanaan PTK antara lain:
Merupakan pelaksanaan inovasi pembelajaran dari bawah. Peningkatan mutu dan perbaikan proses pembelajaran yang dilakukan guru secara rutin merupakan wahana pelaksanaan inovasi pembelajaran. Oleh karena itu guru perlu mencoba untuk mengubah, mengembangkan, dan meningkatkan pendekatan, metode,maupun gaya pembelajaran sehingga dapat melahirkan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan karakteristik kelas.
Pengembangan kurikulum di tingkat sekolah, artinya dengan guru melakukan PTK maka guru telah melakukan implementasi kurikulum dalam tataran praktis, yakni bagaimana kurikulum itu dikembangkan dan disesuaikan dnegan situasi dan kondisi, sehingga kurikulum dapat berjalan secara efektif melalui proses pembelajran yang aktif,inovatif,kreatif,efektif dan menyenangkan.
Berbagai manfaat penelitian tindakan kelas antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut.
Mengembangkan dan melakukan inovasi pembelajaran sehingga pembelajaran yang dilakukan senantiasa tampak baru dikalangan peserta didik.
Merupakan upaya pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sesuai dengan karakteristik pembelajaran, serta situasi dan kondisi kelas.
Meningkatkan profesionalisme guru melalui upaya penelitian yang dilakukannya, sehingga pemahaman guru senantiasa meningkat, baik berkaitan dengan metode maupun isi pembelajaran.
Karakteristik penelitian tindakan kelas
Menurut IGAK Wardanai dan Kuswaya Wihardit (2014) terdapat beberapa karakteristik Penelitian Tindakan Kelas, yaitu:
Adanya masalah dalam PTK dipicu oleh munculnya kesadaran pada diri guru bahwa praktik yang dulakukannya selama ini di kelas mempunyai masalah yang perlu diselesaikan. Dengan perkataan lain, guru merasa bahwa ada sesuatu yang harus di perbaiki dalam praktik pembelajaran yang dilakukannya selama ini, dan diprakarsai dari dalam guru sendiri (an inquiry of practice from whitin), bukan oleh orang luar.
Self reflektif inquiry, atau penelitian melalui refleksi diri, merupakan ciri PTK yang paling esensial. Untuk melakukan refleksi, guru berusaha bertanya pada diri sendiri, misalnya dengan mengajukan pertanyaan berikut:
Apakah penjelasan saya terlampau cepat?
Apakah saya sudah member contoh yang baik?
Apakah saya sudah memberi kesempatan beratanya kepada siswa?
Apakah saya sudah memberi latihan yang memadai kepada siswa?
Apakah hasil latihan siswa sudah saya komentari?
Apakah bahasa yang saya gunakan dapat dipahami siswa?
Dari pertanyaan seperti di atas guru akan dapat memperkirakan penyebab dari masalah yang dihadapi dan kemudian akan mencoba mencari jalan keluar untuk memperbaiki/meningkatkan hasil belajar siswa.
Penelitian kelas dilakukan di dalam kelas, sehingga focus penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran berupa perilaku guru dan siswa dalam melakukan interaksi;
Penelitian Kelas bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran. Dimana perbaikan dilakukan secara bertahap dan terus menerus, selama kegiatan penelitian dilakukan. Oleh karena itu, dalam PTK dikenal adanya siklus tindakan (action) yang dilakukan berulang-ulang dalam rangka mencapai perbaikan yang diinginkan.
Prinsip penelitian tindakan kelas
Agar peneliti memperoleh informasi atau kejelasan yang lebih baik tentang penelitian tindakan kelas perlu kiranya dipahami bersama tentang prinsip-prinsip penelitian tindakan kelas:
Kegiatan nyata dalam situasi rutin
Adanya kesadaran diri untuk memperbaiki kinerja
SWOT sebagai dasar berpijak
Upaya emperis dan sistematik
Ikuti prinsip SMART dalam perencanaan.
Syarat Penelitian tindakan kelas
penelitian tindakan kelas harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi didalam pembelajaran dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
Penelitian tindakan kelas oleh guru menuntut dilakukaknya pencermatan secara terus-menerus, objektif, dan sistematis, artinya dicatat atau direkam dengan baik sehingga diketahui dengan pasti tingkat keberhasilan yang diperoleh.
Penelitian tindakan kelas harus dilakukan sekurang-kurangnya dalam dua siklus tindakan yang berurutan.
Penelitian tindakan terjadi secara wajar, tidak mengubah aturan yang sudah ditentukan, dalam arti tidak mengubah jadwal yang berlaku.
Penelitian tindakan harus betul-betul disadari oleh pemberi maupun pelakunya sehingga pihak-pihak yang bersangkutan dapat mengemukakan kembali apa yang dilakukan.
Penelitian tindakan harus benar-benar menunjukkan adanya tindakan yang dilakukan oleh sasaran tindakan, yaitu siswa yang sedang belajar.
Model penelitian tindakan kelas
Ada beberapa ahli yang mengemukakan model penelitian tindakan dengan bagan yang berbeda namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
Perbedaan PTK dengan Konfensional
Penelitian tindakan kelas
perbedaan
konfensional
Masalah dirasakan dan dihadapi peneliti dalam melaksanakan tugasa dan pekerjaannya.
Masalah
Masalah dan pengamatan pihak lain termasuk sponsor
Melakukan perbaikan dan peningakatan atau perubahan kearah yang lebih baik
Tujuan
Menguji hipotesis,membuat generalisasi.
Langsung terlihat dan dapat dinikmati peneliti dan objek penelitiannya
Manfaat
Tidak langsung terlihat biasanya dipakai sebagai saran-saran.
Dipakai sebagai dasar memilih dan menentukan solusi tindakan
Teori
Dipakai sebagai dasar perumusan hipotesis/ pertanyaan atau penelitian.
Bersifat lebih fleksibel. Langkah kerja bersifat siklus ada empat tahapan. Analisis terjadi dalam proses setiap siklus.
Metodologi
Menuntut paradigma penelitian yang jelas. Analisis dilakukan setelah data terkumpul,khususnya dalam penelitian kuantitatif.
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penelitian Tindakan Kelas sangat berkaitan erat dengan pembelajaran, yang menjadi permasalahan yang melatarbelakanginya adalah ketidak sesuaian antara teori pembelajaran dengan praktik, dan refleksinya dapat berupa strategi dan metode belajar, media belajar, sampai pada penilaian belajar.
Manfaat PTK dapat dilihat dari dua aspek yakni aspek akademis dan aspek praktis. Sehingga tujuan dapat dicapai dengan cara melakukan berbagai tindakan untuk memecahkan berbagai permasalahan pembelaj aran di kelas yang selama ini dihadapi, baik disadari atau mungkin tidak disadari. Oleh karena itu, fokus penelitian tindakan kelas adalah terletak kepada tindakan-tindakan altematif yang direncanakan oleh guru, kemudian dicobakan, dan dievaluasi untuk mengetahui efektivitas tindakan-tindakan Alternative itu dalam memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, et. al., 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Cet. 11; Jakarta: Bumi Aksara.
Ismawati, Esti. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra. Cet. 4; Yogyakarta: Ombak.
Muslich, Masnur. 2014. Melaksanakan PTK Penelitian Tindakan Kelas Itu Mudah. Cet. 8; Jakarta: Bumi Aksara.
Trianto. 2010. Pengantar Penelitian Pendidikan Bagi Pengembangan Profesi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan. Jakarta: Kencana.
http://googleweblight.com?lite_url=https://belajarmengirfan.wordpress.com/2015/04/03karakteristik-tujuan-dan-manfaat-penelitian-tindakan-kelas.
Latar Belakang
Pemimpin pendidikan tingkat satuan pendidikan, kepala sekolah bertanggung jawab penuh terhadap maju mundurnya sekolah yang dipimpinnya. Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk memperbaiki suatu praktik pembelajaran di kelas, agar makin banyak diminati.
Tidak sedikit tenaga pendidik melakukan PTK dalam upaya mengembangkan profesinya. Proses belajar mengajar yang konvensional dimana kegiatan pembelajaran berpusat pada pendidik perlu mengalami perubahan, pemahaman tentang seluk beluk inovasi pembelajaran harus dikuasai oleh seorang pendidik. Dalam hal ini penguasaan materi ajar, keterampilan pengelolaan kelas, dan strategi pembelajaran menjadi unsur penting yang harus diperhatikan.
Pembelajaran harus bisa mengoptimalkan fungsi peserta didik untuk menjadi keluaran yang berkualitas, peserta didik memiliki potensi untuk berkembang dan untuk itulah pendidik sebagai pengarah potensi itu, oleh karenanya pendidik bukan berperan sebagai pengendali kegiatan peserta didik, tetapi peserta didiklah yang mengalami bagaimana ia bekerja dalam arahan pendidik.
Oleh karena itu, penulis akan mengkaji lebih detail mengenai penelitian tindakan kelas. Juga sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa sebagai calon guru dan kemungkinan dalam penelitiannya mahasiswa akan memilih penelitian tindakan kelas.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas adapun rumusan masalah:
Bagaimana pengertian penelitian tindakan kelas?
Bagaimana tujuan, manfaat, karakteristik, prisnsip, syarat, dan model ptk?
Bagaimana perbedaan PTK dengan model Konfensional?
Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas adapun tujuan penelitian?
Mengetahui pengertian peneltian tindakan kelas.
Mengetahui tujuan, manfaat, karakteristik, prinsip, syarat, dan model PTK.
Mengetahui perbedaan PTK dengan model konfensional.
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Penulisan Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu penelitian yang dilakukan untuk memperbaiki keadaan kelas. Menurut Hopkins (1993) dalam Masnur Muslich (2014) bahwa:
PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif, yang dilakukan oleh pelaku tindakan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakannya dalam melaksanakan tugas dan memperdalam pemahaman terhadap kondisi dalam praktik pembelajaran.
Penelitian Tindakan Kelas juga merupakan suatu pencermatan kegiatan belajar berupa tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh pelaku PTK dengan arahan yang harus dilakukan oleh pembelajar atau peserta didik.
Lebih jelas Kurt Lewin (1982) dalam Esti Ismawati (2012) mengemukakan pengertian PTK dengan istilah Penelitian Kaji Tindak menurut prosesnya yaitu:
Penelitian kaji tindak terdiri atas analisis, pencarian fakta, kenseptualisasi, perencanaan tindakan, pencarian fakta lebih jauh atau evaluasi, dan pengulangan kembali siklus aktivitas ini secara keseluruhan.
Penelitian Tindakan Kelas sangat berkaitan erat dengan pembelajaran, yang menjadi permasalahan yang melatarbelakanginya adalah ketidak sesuaian antara teori pembelajaran dengan praktik, dan refleksinya dapat berupa strategi dan metode belajar, media belajar, sampai pada penilaian belajar.
Terdapat dua esensi dalam penelitian tindakan kelas, yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area, yaitu, untuk memperbaiki praktik, untuk pengembangan professional dalam arti meningkatkan pemahaman/kemampuan para praktisi terhadap praktik yang dilaksanakannya, dan untuk memperbaiki keadaan atau situasi dimana praktik tersebut dilaksanakan.
2.2 Tujuan, Manfaat, Karakteristik, Prisnsip, Syarat, dan Model PTK
2.2.1 Tujuan penelitian tindakan kelas
Penelitian pendidikan pada umumnya ditujukan untuk memperoleh landasan dalam mempertimbangkan suatu prosedur kerja, khususnya prosedur pembelajaran, menjamin cara kerja yang efektif dan efisien, memperoleh fakta-fakta tentang berbagai masalah pendidikan, dan menghindarkan sesuatu yang dapat merusak, serta meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan pembelajaran. Secara umum penelitian tindakan kelas bertujuan:
Memperbaiki dan meningkatkan kondisi-kondisi belajar serta kualitas pembelajaran.
Meningkatkan layanan professional dalam konteks pembelaaran, khhususnya layanan kepada peserta didik sehingga tercipta layanan prima.
Memberi kesempatan kepada guru berimprovisasi dalam melakukan tindakan pembelajaran yang direncanakan secara tepat waktu dan sasarannya.
Memberi kesempatan kepada guru mengadakan kajian secara bertahap kegiatan pembelajaran yang dilakukannya sehingga tercipta perbaikan yang berkesinambungan.
Membiasakan guru mengembangkan sikap ilmiah, terbuka dan jujur dalam pembelajaran.
Tujuan ini dapat dicapai dengan cara melakukan berbagai tindakan untuk memecahkan berbagai permasalahan pembelaj aran di kelas yang selama ini dihadapi, baik disadari atau mungkin tidak disadari. Oleh karena itu, fokus penelitian tindakan kelas adalah terletak kepada tindakan-tindakan altematif yang direncanakan oleh guru, kemudian dicobakan, dan dievaluasi untuk mengetahui efektivitas tindakan-tindakan Alternative itu dalam memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru.
Manfaat penelitian tindakan kelas
Manfaat PTK dapat dilihat dari dua aspek yakni aspek akademis dan aspek praktis. Aspek Akademis, manfaatnya adalah untuk membantu guru mengahasilkan pengetahuan yang shahih dan relevan bagi kelas mereka untuk memperbaiki mutu pembelajaran dalam jangka pendek. Adapun Manfaat Praktis dari pelaksanaan PTK antara lain:
Merupakan pelaksanaan inovasi pembelajaran dari bawah. Peningkatan mutu dan perbaikan proses pembelajaran yang dilakukan guru secara rutin merupakan wahana pelaksanaan inovasi pembelajaran. Oleh karena itu guru perlu mencoba untuk mengubah, mengembangkan, dan meningkatkan pendekatan, metode,maupun gaya pembelajaran sehingga dapat melahirkan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan karakteristik kelas.
Pengembangan kurikulum di tingkat sekolah, artinya dengan guru melakukan PTK maka guru telah melakukan implementasi kurikulum dalam tataran praktis, yakni bagaimana kurikulum itu dikembangkan dan disesuaikan dnegan situasi dan kondisi, sehingga kurikulum dapat berjalan secara efektif melalui proses pembelajran yang aktif,inovatif,kreatif,efektif dan menyenangkan.
Berbagai manfaat penelitian tindakan kelas antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut.
Mengembangkan dan melakukan inovasi pembelajaran sehingga pembelajaran yang dilakukan senantiasa tampak baru dikalangan peserta didik.
Merupakan upaya pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sesuai dengan karakteristik pembelajaran, serta situasi dan kondisi kelas.
Meningkatkan profesionalisme guru melalui upaya penelitian yang dilakukannya, sehingga pemahaman guru senantiasa meningkat, baik berkaitan dengan metode maupun isi pembelajaran.
Karakteristik penelitian tindakan kelas
Menurut IGAK Wardanai dan Kuswaya Wihardit (2014) terdapat beberapa karakteristik Penelitian Tindakan Kelas, yaitu:
Adanya masalah dalam PTK dipicu oleh munculnya kesadaran pada diri guru bahwa praktik yang dulakukannya selama ini di kelas mempunyai masalah yang perlu diselesaikan. Dengan perkataan lain, guru merasa bahwa ada sesuatu yang harus di perbaiki dalam praktik pembelajaran yang dilakukannya selama ini, dan diprakarsai dari dalam guru sendiri (an inquiry of practice from whitin), bukan oleh orang luar.
Self reflektif inquiry, atau penelitian melalui refleksi diri, merupakan ciri PTK yang paling esensial. Untuk melakukan refleksi, guru berusaha bertanya pada diri sendiri, misalnya dengan mengajukan pertanyaan berikut:
Apakah penjelasan saya terlampau cepat?
Apakah saya sudah member contoh yang baik?
Apakah saya sudah memberi kesempatan beratanya kepada siswa?
Apakah saya sudah memberi latihan yang memadai kepada siswa?
Apakah hasil latihan siswa sudah saya komentari?
Apakah bahasa yang saya gunakan dapat dipahami siswa?
Dari pertanyaan seperti di atas guru akan dapat memperkirakan penyebab dari masalah yang dihadapi dan kemudian akan mencoba mencari jalan keluar untuk memperbaiki/meningkatkan hasil belajar siswa.
Penelitian kelas dilakukan di dalam kelas, sehingga focus penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran berupa perilaku guru dan siswa dalam melakukan interaksi;
Penelitian Kelas bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran. Dimana perbaikan dilakukan secara bertahap dan terus menerus, selama kegiatan penelitian dilakukan. Oleh karena itu, dalam PTK dikenal adanya siklus tindakan (action) yang dilakukan berulang-ulang dalam rangka mencapai perbaikan yang diinginkan.
Prinsip penelitian tindakan kelas
Agar peneliti memperoleh informasi atau kejelasan yang lebih baik tentang penelitian tindakan kelas perlu kiranya dipahami bersama tentang prinsip-prinsip penelitian tindakan kelas:
Kegiatan nyata dalam situasi rutin
Adanya kesadaran diri untuk memperbaiki kinerja
SWOT sebagai dasar berpijak
Upaya emperis dan sistematik
Ikuti prinsip SMART dalam perencanaan.
Syarat Penelitian tindakan kelas
penelitian tindakan kelas harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi didalam pembelajaran dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
Penelitian tindakan kelas oleh guru menuntut dilakukaknya pencermatan secara terus-menerus, objektif, dan sistematis, artinya dicatat atau direkam dengan baik sehingga diketahui dengan pasti tingkat keberhasilan yang diperoleh.
Penelitian tindakan kelas harus dilakukan sekurang-kurangnya dalam dua siklus tindakan yang berurutan.
Penelitian tindakan terjadi secara wajar, tidak mengubah aturan yang sudah ditentukan, dalam arti tidak mengubah jadwal yang berlaku.
Penelitian tindakan harus betul-betul disadari oleh pemberi maupun pelakunya sehingga pihak-pihak yang bersangkutan dapat mengemukakan kembali apa yang dilakukan.
Penelitian tindakan harus benar-benar menunjukkan adanya tindakan yang dilakukan oleh sasaran tindakan, yaitu siswa yang sedang belajar.
Model penelitian tindakan kelas
Ada beberapa ahli yang mengemukakan model penelitian tindakan dengan bagan yang berbeda namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
Perbedaan PTK dengan Konfensional
Penelitian tindakan kelas
perbedaan
konfensional
Masalah dirasakan dan dihadapi peneliti dalam melaksanakan tugasa dan pekerjaannya.
Masalah
Masalah dan pengamatan pihak lain termasuk sponsor
Melakukan perbaikan dan peningakatan atau perubahan kearah yang lebih baik
Tujuan
Menguji hipotesis,membuat generalisasi.
Langsung terlihat dan dapat dinikmati peneliti dan objek penelitiannya
Manfaat
Tidak langsung terlihat biasanya dipakai sebagai saran-saran.
Dipakai sebagai dasar memilih dan menentukan solusi tindakan
Teori
Dipakai sebagai dasar perumusan hipotesis/ pertanyaan atau penelitian.
Bersifat lebih fleksibel. Langkah kerja bersifat siklus ada empat tahapan. Analisis terjadi dalam proses setiap siklus.
Metodologi
Menuntut paradigma penelitian yang jelas. Analisis dilakukan setelah data terkumpul,khususnya dalam penelitian kuantitatif.
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penelitian Tindakan Kelas sangat berkaitan erat dengan pembelajaran, yang menjadi permasalahan yang melatarbelakanginya adalah ketidak sesuaian antara teori pembelajaran dengan praktik, dan refleksinya dapat berupa strategi dan metode belajar, media belajar, sampai pada penilaian belajar.
Manfaat PTK dapat dilihat dari dua aspek yakni aspek akademis dan aspek praktis. Sehingga tujuan dapat dicapai dengan cara melakukan berbagai tindakan untuk memecahkan berbagai permasalahan pembelaj aran di kelas yang selama ini dihadapi, baik disadari atau mungkin tidak disadari. Oleh karena itu, fokus penelitian tindakan kelas adalah terletak kepada tindakan-tindakan altematif yang direncanakan oleh guru, kemudian dicobakan, dan dievaluasi untuk mengetahui efektivitas tindakan-tindakan Alternative itu dalam memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, et. al., 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Cet. 11; Jakarta: Bumi Aksara.
Ismawati, Esti. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra. Cet. 4; Yogyakarta: Ombak.
Muslich, Masnur. 2014. Melaksanakan PTK Penelitian Tindakan Kelas Itu Mudah. Cet. 8; Jakarta: Bumi Aksara.
Trianto. 2010. Pengantar Penelitian Pendidikan Bagi Pengembangan Profesi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan. Jakarta: Kencana.
http://googleweblight.com?lite_url=https://belajarmengirfan.wordpress.com/2015/04/03karakteristik-tujuan-dan-manfaat-penelitian-tindakan-kelas.
Efektivitas penggunaan metode team quiz dalam meningkatkan perhatian pembelajaran pendidikan agama Islam peserta didik kelas V. II di SMP 3 Mattiro Bulu
i Fitry Ramadani: Efektivitas Penggunaan Metode Team Quiz dalam Meningkatkan Perhatian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Peserta Didik Kelas VII. II SMP Negeri 3 Mattiro Bulu (dibimbing oleh (Hairun Patty dan Muh. Dahlan Thalib).
Pendidik lebih banyak menggunakan metode pembelajaran yang sama dalam pembelajaran, hal ini dipandang peserta didik masih tahap awal selain itu melihat kondisi peserta didik kurang perhatian terhadap pembelajaran pendidikan agama Islam dan kegaduhan yang tercipta di dalam kelas. Metode Team Quiz adalah suatu metode actif learning yang digunakan dalam pembelajaran bertujuan menumbuhkan semangat peserta didik, lebih aktif bekerjasama dalam proses pembelajaran baik emosional maupun sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan metode Team Quiz dalam meningkatkan perhatian pembelajaran pendidikan agama Islam peserta didik kelas VII. II di SMP Negeri 3 Mattiro Bulu.
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan desain one-grop pre-test post-test design. Instrumen pengumpulan data digunakan observasi, tes dan dokumentasi. Adapun teknik analisis datanya yaitu menggunakan uji t.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penggunaan metode team quiz dapat meningkatkan perhatian pembelajaran pendidikan agama Islam, (2) dengan membandingkan besarnya t yang diperoleh dalam perhitungan yang tercantum pada nilai t hitung maka diketahui bahwa t hitung lebih besar dari t tabel di mana t hitung = 1, 03896 sedangkan t tabel = 0,687. (3) dengan t hitung ≥ t tabel maka hipotesis dapat diterima dan ini berarti Efektivitas Penggunaan Metode Team Quiz dapat Meningkatkan Perhatian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Peserta Didik Kelas VII. II SMP Negeri 3 Mattiro Bulu.
Kata Kunci: Metode Team Quiz, Perhatian Pembelajaran
Pendidik lebih banyak menggunakan metode pembelajaran yang sama dalam pembelajaran, hal ini dipandang peserta didik masih tahap awal selain itu melihat kondisi peserta didik kurang perhatian terhadap pembelajaran pendidikan agama Islam dan kegaduhan yang tercipta di dalam kelas. Metode Team Quiz adalah suatu metode actif learning yang digunakan dalam pembelajaran bertujuan menumbuhkan semangat peserta didik, lebih aktif bekerjasama dalam proses pembelajaran baik emosional maupun sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan metode Team Quiz dalam meningkatkan perhatian pembelajaran pendidikan agama Islam peserta didik kelas VII. II di SMP Negeri 3 Mattiro Bulu.
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan desain one-grop pre-test post-test design. Instrumen pengumpulan data digunakan observasi, tes dan dokumentasi. Adapun teknik analisis datanya yaitu menggunakan uji t.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penggunaan metode team quiz dapat meningkatkan perhatian pembelajaran pendidikan agama Islam, (2) dengan membandingkan besarnya t yang diperoleh dalam perhitungan yang tercantum pada nilai t hitung maka diketahui bahwa t hitung lebih besar dari t tabel di mana t hitung = 1, 03896 sedangkan t tabel = 0,687. (3) dengan t hitung ≥ t tabel maka hipotesis dapat diterima dan ini berarti Efektivitas Penggunaan Metode Team Quiz dapat Meningkatkan Perhatian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Peserta Didik Kelas VII. II SMP Negeri 3 Mattiro Bulu.
Kata Kunci: Metode Team Quiz, Perhatian Pembelajaran
Sabtu, 09 September 2017
laporan program pengalaman lapangan (PPL)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Program
Pengalaman Lapangan (PPL) adalah suatu bentuk penerapan pendidikan dan
pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dan dilaksanakan oleh mahasiswa
STAIN Parepare dalam waktu 2 bulan dengan jumlah akademik 4 SKS.
Program
pelaksanaan Lapangan (PPL) merupakan bagian inti kurikuler yang dilaksanakan
oleh mahasiswa calon guru atau tenaga pendidik, baik latihan maupun mengajar
atau tugas kependidikan lainnya. Secara terbimbing dan terpadu sebagai
persyaratan profesi keguruan.
Program ini
dirancang secara khusus untuk menyiapkan mahasiswa-mahasiswi yang kompeten
serta handal dalam bidangnya masing-masing. Serta dapat memiliki atau menguasai
kemampuan keguruan yang terpadu secara utuh setelah nantinya mereka terjun dalam
lingkungan keguruan sekaligus dapat mengemban tugas dan bertanggung jawab
secara Profesional.
PPL merupakan
muara dari seluruh program kependidikan yang dilakukan setelah mahasiswa calon
guru dianggap sudah mendapat bekal yang memadai berbagai bidang yang berkaitan
pegelolaan belajar mengajar.
Dipandang dari
sudut kurikulum, PPL merupakan mata kuliah proses belajar mengajar yang
dipersyaratkan dalam pendidikan prajabatan guru.
PPL sengaja
dirancang untuk menyiapkan mahasiswa PPL agar memiliki atau menguasai kemampuan
keguruan yang terpadu secara utuh, sehingga setelah mereka menjadi guru mereka
dapat mengembangkan tugas dan tanggung jawab secara professional. Dipandang
dari isi PPL adalah seperangkat komponen pelatihan prajabatan guru yang
berlangsung dalam siklus teori praktek secara berlapis dan berulang pada setiap
langkah yang disyaratkan dalam program latihan tersebut. Setiap langkah dalam
komponen pelatihan itu selalu mengacu kepada teori yang telah dipelajari menuju
kepada praktek pelaksanaan tugas.
Selain itu
dalam laporan ini penulis sedikit dan sederhana tentang fenomena yang terjadi
dalam pendidikan khususnya pada Madrasah Aliyah DDI Lil-Banat Parepare.
Bertitik tolak
dari asumsi bahwa besarnya peranan setiap mata pelajaran, maka sadar atau tidak,
maka tanggung jawab yang besar tentulah dibebankan kepada seorang pendidik baik
dalam pemberian materi ajar, penggunaan metode, penyesuaian materi ajar dengan
media dan metodesehingga dapat memberikan rangsangan bagi peserta didik dalam
belajar, sebab keberhasilan seorang peserta didik sangat ditentukan oleh hal
tersebut. Sehingga dengan alasan ini kemudian di adakan praktik pengalaman
lapangan (PPL) yang tujuannya adalah bagaimana seorang mahasiswa dapat
mengaplikasikan ilmunya sekaligus proses pembelajaran, karena dalam kegiatan
ini bukan hanya sekedar transfer ilmu saja tapi bagaimana kita mengetahui
karekter peserta didik, bagaimana menentukan media dan metode yang tepat serta
yang lebih penting adalah bagaimana seorang guru dapat memancing minat peserta
didik hingga kelas menjadi hidup.
1.2 Ruang
Lingkup
Ruang
lingkup (rangkaian) dalam rangkaian Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) terdiri
dari:
1.1
Pembekalan
PPL dilaksanakan pada tanggal 24-55 September
2016
1.2
Pelaksanaan
kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) meliputi:
1.2.1
Pelepasan
peserta PPL dilaksanakan pada tanggal 03
Oktober 2016.
1.2.2
Orientasi
dan observasi di sekolah dalam hal ini MA DDI Lil-Banat PAREPARE pada tanggal 03-09
Oktober 2016.
1.2.3
Kegiatan
praktik pembelajaran di kelas yang pelaksanaannya dilakukan beberapa kali
pertemuan selama sepekan di kelas yang berbeda dan materi yangg berbeda setiap
hari dalam sepekan, jadwal mengajar terlampir.
1.2.4
Penarikan peserta PPL dilaksanakan
pada 05 Desember 2016.
1.2.5
Kegiatan
administrasi sekolah dan bimbingan siswa.
1.3
Kegiatan
penyusunan laporan PPL sampai dengan tanggal 07 Desember 2016.
BAB II
TUJUAN, SIGNIFIKANSI DAN INDIKATOR KEBERHASILAN KEGIATAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL)
2.1 TUJUAN PELAKSANAAN PENGALAMAN LAPANGAN (PPL)
PPL bertujuan memberikan pengalaman
nyata di lapangan kepada mahasiswa sehingga terbentuk menjadi tenaga
kependidikan yang profesional, yaitu tenaga kepandidikan yang memiliki
seperangkat pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang diperlukan bagi
profesinya serta mampu menerapkannya dalam penyelenggaraan pendidikan dan
pembelajaran. Dalam hal ini, PPL akan melatih mahasiswa PPL agar memiliki
memperagakan kinerja dalam situasi nyata, baik dalam kegiatan mengajar maupun
dalam tugas-tugas lainnya PPL memberikan peluang secara bertahap kepada
mahasiswa PPL untuk melaksanakan tanggung jawab dalam merencanakan dan
menyelenggarakan kegiatan pembalajan dan tugas-tugas keguruan lainnya di
sekolah.
Tujuan Pelaksanaan Pengalaman Lapangan (PPL) dapat di bagi menjadi
dua bagian yaitu:
2.1.1
TUJUAN
UMUM
Praktek pengalaman lapangan (PPL) bertujuan untuk mendapatkan
secara faktual di lapangan sebagai wahana terbentuknya tenaga kependidikan yang
memiliki seperangkat pegetahuan, nilai dan sikap yang diperlukan bagi
profesinya, serta mampu menerapkannya dalam penyelenggaraan kependidikan dan
pengajaran baik di sekolah maupun di luar sekolah.
2.1.2
TUJUAN
KHUSUS
Sebagai
salah satu persyaratan akademik yang harus di penuhi oleh semua Mahasiswa
khususnya dalam bidang keguruan.
2.1.2.1 Mengembangkan kemampuan untuk menilai diri yaitu dengan aktif dalam
menghadapi masalah-masalah yang ada di kelas selama dalam proses belajar
mengajar.
2.1.2.2 Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mahasiswa tentang anak
didik, dan kesempatan untuk memanfaatkan pengetahuan tersebut dalam pembelajaran
dan pengelolahan pembelajaran.
2.1.2.3 Memberikan kesempatan kepada mahasiswa calon guru untuk mengenali
dan menghargai kepribadian individual siswa, serta tanggap terhadap antar
individu.
2.1.2.4 Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan ilmu pengetahuan
yang diperoleh selama perkuliahan pada kampus yang telah ditempati.
2.1.2.5 Mengenal secara umum lingkungan fisik, sosial, administrasi dan
akademik sekolah tempat pengabdian kelak.
2.2 KEGUNAAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL)
Kegunaan Praktik Pengalaman Lapangan
(PPL) pada umumnya untuk memberikan bekal pengalaman bagi mahasiswa dalam proses belajar mengajar serta sebagai titik
awal untuk melangkahkan kaki setelah kita memasuki dunia pendidikan. Proses ini
juga memegang peranan penting dalam pembentukan sikap seorang yang nantinya
menjadi tenaga pengajar untuk mampu melaksanakan tugasnya secara professional
dan bertanggung jawab.
Selain itu keguanaan yang diharapkan dengan adanya Program
Pengalaman Lapangan ini adalah sebagai berikut:
2.2.1
Bagi mahasiswa,
menjadi kesempatan untuk melatih pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan
atau praktek mengajar dengan bimbingan guru pamong yang telah ditentukan. Dapat
memperoleh pengalaman praktek di lapangan tentang hal-hal yang berhubungan
dengan tugas-tugas guru seperti disiplin waktu, kode etik berpakaian, persiapan
mengajar dalam membuat skenario pembelajaran, menguasai materi, dan metode
dalam proses belajar mengajar.
2.2.2
Bagi guru, akan
meningkatkan kualitas guru karena melalui program PPL guru dapat memberikan
bimbingan kepada mahasiswa yang merupakan generasi pelanjut pengembang
pendidikan.
2.2.3
Bagi sekolah, melalui program PPL terjalin kerja sama yang
baik antara pihak sekolah dengan pihak Perguruan Tinggi.
2.3
INDIKATOR
KEBERHASILAN
2.3.1 Mahasiswa mampu membagi ilmu yang telah diperoleh kepada para
peserta didik yang membutuhkan.
2.3.2 Mahasiswa mampu menjadi contoh yang baik sebagai calon pendidik
kepada para anak didiknya kelak.
2.3.3 Melahirkan pribadi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, bertanggung
jawab dan sikap yang diperlukan dalam pembentukan profesi guru Pendidikan Agama
Islam, guru Pendidikan Bahasa Arab, dan Pendidikan Bahasa Inggris.
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL)
Pelaksanaan
Kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang dilaksanakan oleh Jurusan
Tarbiyah STAIN Parepare yang berlokasikan di MA DDI LIL-BANAT PAREPARE yang merupakan bagian dari Pondok Pesantren Ujung Lare dimulai pada tanggal 03 Oktober 2016. Berikut ini akan dipaparkan
beberapa komponen yang terkait dengan pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan
mulai dari situasi umum lokasi kegiatan hingga pada situasi waktu pelaksanaan
kegiatan PPL ini.
3.1 SITUASI UMUM MA DDI LIL-BANAT PAREPARE
Sebagaimana telah dijelaskan diawal bahwa kegiatan Praktik
Pengalaman Lapangan ini dilaksanakan di MA DDI LIL-BANAT PAREPARE
yang merupakan bagian dari Pondok Pesantren DDI
Ujung Lare Parepare. Madrasah ini
juga merupakan salah satu naungan dari pondok pesantren yang memiliki Akreditasi A Badan Nasional
Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) No. 69/SK/BAP-SM/XII/2013. Sekolah ini terletak di
Kecamatan Soreang Kelurahan Ujung Lare di kota Parepare tepatnya Jl. Abubakar
Lambogo No 53 Parepare, kode pos 91131. Sekolah ini memiliki misi Memberikan
bekal kepada tamatan MA Lil Banat , kompetensi yang dilandasi oleh IMTAQ dan
IPTEK serta terampil melalui kegiatan belajar mengajar dan pelatihan serta
konsolidasi manajemen, peningkatan hubungan kerja sama secara terpadu serta
pemanfaatan sarana dan prasarana secara optimal sehingga mampu bersaing dalam
era globalisasi. Sistem pengajaran di MA Lil Banat mengikuti kurikulum yang
diberlakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan berada dalam
koordinasi Dirjen Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI ditambah dengan kegiatan
ekstrakurikuler wajib harus diikuti berupa keterampilan tata boga dan tata
busana. Penguasaan Bahasa Arab dan Inggris, pengajian kitab kuning dan tahfidz
Qur’an menjadi bagian dari kompetensi siswa.
Pesatnya perkembangan pondok pesantren DDI Ujung Lare yang pada
saat itu memiliki ribuan santri dari jenjang Ibtidaiyah sampai jenjang
perguruan tinggi, maka pada tahun 1979 dikembangkan pesantren baru di daerah
Kaballangang, Kabupaten Pinrang. Saat itu semua santri dipindahkan ke pesantren
baru tersebut dan menyisakan beberapa orang santriwati yang akhirnya menjadi
cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren DDI khusus putri (Lil Banat).
Madrasahnya pun diberi nama Madrasah Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah DDI Lil
Banat. Dan kepeminpinan pondok pesantren diserahkan kepada Prof. DR. K.H. Abdul
Muiz Kabry.
KEPALA MADRASAH DARI MASA KE MASA
Beberapa nama yang pernah menjadi Kepala Madrasah Aliyah DDI Lil
Banat antara lain
1. Gurutta Muh. Amin D, BA.
2. Gurutta KH. Iskandar, BA.
3. Dra. Maryam Latif
4. Syaiful Mahsan, S.Pt., M.Si.
Kegiatan belajar terbagi atas tiga sesi yaitu
Program regular sesuai dengan kurikulum 2006
Kegiatan ekstrakurikuler
Pengkajian kitab kuning yang terintegrasi dengan kegiatan pondok
Kurikulum yang diterapkan pada tahun pelajaran 2016-2017 adalah
kurikulum tingkat satuan pendidikan (Kurikulum 2006) mengacu pada peraturan
Menteri Agama Nomor 207 tahun 2014. yang diintegrasikan dengan sistem
pendidikan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren. Tenaga pengajar yang ada
dalam sekolah ini berjumlah 38 guru. Adapun jumlah guru tetap yayasan yaitu hanya 9 orang, PNS Kemenag 2
orang, honorer 17 orang. Sekolah ini
memiliki fasilitas yang berupa sarana dan prasarana dan bisa dikatakan cukup
lengkap.
Dalam bidang prestasi, Madrasah ini telah membuktikan bahwa sekolah
ini memang pantas dikatakan sebagai salah satu pondok pesantren unggulan karena
prestasi yang telah diukir lumayan banyak baik dalam bidang pendidikan dan
olahraga.
SITUASI PESERTA PRAKTEK
PENGALAMAN LAPANGAN
Peserta PPL
yang ditempatkan di Madrasah Aliyah DDI Lil-Banat Parepare berjumlah 10 (sepuluh)
orang yang berasal dari prodi yang berbeda yaitu 4 (empat) orang dari prodi PBI
(Pendidikan Bahasa Inggris), 4 (empat) orang dari prodi PAI (Pendidikan Agama
Islam) dan 2 (dua) orang dari PBA (Pendidikan Bahasa Arab).
3.2.1 Tabel.
Nama-Nama
peserta PPL di MTs DDI Al-Badar
|
NO
|
NAMA PESERTA
PPL
|
PROGRAM STUDI
|
|
1.
|
ANDI FITRY RAMADANI
|
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
|
|
2.
|
RATNASARI
|
PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
|
|
3.
|
HASMILA
|
PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
|
|
4.
|
HARDIANTI
HAMZAH
|
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
|
|
5.
|
NUR ALAMSYAH
|
PENDIDIKAN
BAHASA INGGRIS
|
|
6.
|
HUSNAENI H
|
PENDIDIKAN
BAHASA INGGRIS
|
|
7.
|
AYU ANDIRA
|
PENDIDIKAN
BAHASA INGGRIS
|
|
8.
|
HUSBAH
|
PENDIDIKAN BAHASA ARAB
|
|
9.
|
RAUDATUL JANNAH
|
PENDIDIKAN BAHASA ARAB
|
|
10.
|
MUHAMADAD RAFIL
|
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
|
Motivasi terbesar kami mengikuti kegiatan praktek pengalaman
lapangan (PPL) ini, adalah untuk mengasah kemampuan yang kami miliki dalam
mengajar dan untuk mengktualisasikan ilmu atau teori yang kami dapatkan di
bangku perkuliahan, agar nantinya ketika kami telah terjun kemasyarakat dan
berkecimpung dalam dunia pendidikan, kami sudah tidak canggung lagi dalam
mengajar.
Maka dari itu, kami sangat berantusias mengikuti kegiatan praktek
pengalaman lapangan (PPL), karena ini merupakan modal awal bagi kami sebelum
terjun kemasyarakan nantinya.
3.2 SITUASI DOSEN PEMBIMBING DAN GURU PAMONG
3.3.1 Dosen
Pembimbing
Nama :
Dr. H. Abdul Halim K. Lc. MA
TTL :
Pinrang, 24 juni 1959
Alamat : Jln. Abu Bakar Lambogo No 53
Pekerjaan :
Dosen
Pangkat/Golongan :4A
Jenjang Pendidikan :
-
SD Pinrang
-
MTs Ujung Lare
-
MA Ujung Lare
-
S1 UI DDI Ujung Lare
-
S1 Universitas Al-Ashar Mesir (1990)
-
S2 Harton Internasional of Arabic Langguange (1994)
-
S3 UIN Alauddin Makassar (2014)
-
3.3.2
Guru
Pamong
Nama : Hasdawati, S.S, M.Pd.I
TTL : Pinrang, 21 November 1972
Alamat :
Jl. Abu Bakar
Lambogo
Jenis Kelamin :
Perempuan
Jabatan :
Wakamat Kurikulum
Sertifikasi Pendidikan :
SKI
Pangkat/Golongan :
3C
Jenjang Pendidikan :
1. SDN 09 Pinrang
2. Mts DDI Lil-Banat Parepare
3. SMAM 983
Pinrang
4. S1 UNHAS
5. S2 UMI
3.4
SILABUS,
DESAIN PEMBELAJARAN DAN MODEL PPL
Dalam pelaksanaan Praktik Pengalaman ini, tentunya tidak terlepas
dari berbagai unsur yang mendukung berhasilnya proses pembelajaran yang dilakukan
penulis di dalam kelas. Beberapa diantaranya adalah Silabus, Desain
Pembelajaran dan Model Kegiatan PPL.
Tentunya penulis mendesain pembelajaran yang menyenangkan agar
peserta didik tertarik untuk belajar. Penulis membuat desain sesuai dengan materi
ajar pada setiap pembelajaran serta sesuai dengan aspek skill yang ingin
dicapai. Tentunya penulis juga menggunakan media yang mendukung.
Hal yang terpenting adalah, penulis mendesain pembelajaran di mana
siswa dan guru memiliki porsi yang sama, yakni antara keaktifan siswa dan guru
sama-sama 50%. Adapun silabus dan model kegiatan PPL (media ajar) yang telah di
buat penulis Terlampir.
3.5 METODE DAN
PENDEKATAN YANG DITERAPKAN
Metode yang digunakan penulis pada setiap kali proses pembelajaran
berdasarkan pada materi ajar pada setiap penemuan. Sehingga metode yang
digunakan berbeda-beda pada setiap pertemuan. Misalnya, metode team quiz, growping
statement, card short dan lain-lain. Keseluruhan metode yang digunakan penulis
dapat dilihat pada RPP. Terlampir.
3.6 EVALUASI
Setalah beberapa minggu pelsksanaan program PPL ini ada beberapa
hal yang menjadi bahan pertimbangan serta evaluasi sebagai salah satu ukuran
untuk seberapa jauh keberhasilan yang telah dicapai dalam program ini :
3.6.1
Dalam proses
pelaksanaan kegiatan siswa lebih menyukai jika mereka sendiri yang membacakan
isi materi dibanding guru.
3.6.2
Kegaduhan
peserta didik dalam proses pembelajaran harus lebih diawasi lagi, agar minat belajarnya
tidak melebihi dari perencanaan guru.
3.6.3
Pemahaman
psikologi anak didik yang dihadapi sangat diperlukan untuk mengetahui keinginan
serta kemampuan peserta didik.
3.7 SITUASI WAKTU
PELAKSANAAN PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL)
Program ini dilaksanakan di MA DDI Lil-Banat Parepare yang
dilaksanakan kurang lebih selama 2 bulan yang dimulai pada tanggal 03 oktober s/d 05 Desember 2016. Dalam kegiatan praktek pengalaman lapangan (PPL) ini, peserta ppl diwajibkan
melaksanakan 9 kali pertemuan dengan 9 RPP. Dalam pelaksanaan ini, penulis
selaku peserta PPL diberikan kesempatan mengajar pada kelas yang di sesauikan
dengan materi yang akan disampaikan dengan jumlah 4 ruangan. adapun waktu
mengajar dan materi yang di ajarkan terlampir dalam laporan ini.
3.7.1 Tabel.
Jadwal Kegiatan Pembelajaran
|
No
|
Hari/ Tanggal
|
Jam
|
Jenis Kegiatan
|
Guru pamong
|
|
1
|
Senin, 10 Oktober 2016
|
10.40-12.10
|
Mengajar di Kelas X.I
|
Jamaliah, S.Ag
|
|
2
|
Senin, 10 Oktober 2016
|
13.00-14.30
|
Mengajar di Kelas XI
IPA
|
Jamaliah, S.Ag
|
|
3
|
Selasa, 11Oktober 2016
|
07.20-08.50
|
Mengajar di Kelas XII
IPS
|
Dra. Nurhidayah Latif
|
|
4
|
Sabtu, 15 Oktober 2016
|
07.20-08.50
|
Mengajar di Kelas XII
IPA
|
H. Syamsuar Basri. Lc
|
|
5
|
Sabtu, 15 Oktober 2016
|
10.40-12.10
|
Mengajar di Kelas XI
IPA
|
Hasdawati, S.S, M.Pd.i
|
|
6
|
Selasa, 18Oktober 2016
|
07.20-08.50
|
Mengajar di Kelas XI
IPA
|
Dra. Nurhidayah Latif
|
|
7
|
Sabtu, 22 Oktober 2016
|
07.20-08.50
|
Mengajar di Kelas XI
IPA
|
H. Syamsuar Basri. Lc
|
|
8
|
Sabtu, 22 Oktober 2016
|
10.40-12.10
|
Mengajar di Kelas XI
IPA
|
Hasdawati, S.S, M.Pd.i
|
|
9
|
Senin, 24 Oktober 2016
|
07.20-08.50
|
Mengajar di Kelas X.I
|
Hasdawati, S.S, M.Pd.i
|
BAB
IV
PERMASALAHAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) DAN PENDEKATAN
PEMECAHANNYA
4.1 PERMASALAHAN PPL
Dalam hidup
ini, seorang manusia tidak pernah luput dari yang namanya permasalahan. Ketika
apa yang diinginkan sangat berbeda dengan faktanya maka timbullah suatu
permasalahan. Begitu pula yang tengah dirasakan oleh Penulis yaitu ada beberapa
permasalahan yang dihadapi selama pelaksanaan PPL ini, baik itu permasalahan
yang dihadapi oleh mahasiswa dari dalam dirinya sendiri maupun dari lokasi dan
lingkungan yang ditempati oleh Penulis. Diantranya sebagai berikut :
4.1.1
Materi yang
diberikan oleh pihak sekolah lumayan rumit untuk mengatur jadwal mengajar sebab
penulis juga memiliki jadwal perkuliahan selain itu para peserta PPL yang
bertugas di MA DDI Lil-Banat harus selalu melakukan komunikasi agar jadwal yang
satu tidak bentrok dengan jadwal mengajar yang diambil oleh anggota lainnya.
4.1.2
Materi
pembelajaran yang diberikan pihak sekolah menggali potensi ilmu penulis sebab
harus mempelajarinya lebih dalam lagi dikarena tidak semua mata pelajaran
sesuai dengan prodi penulis salah satunya mata pelajaran Pkn sehingga waktu
penulis lebih banyak tercurahkan kepada PPL dan mengesampingkan tugas
perkuliahan.
4.1.3
Kurangnya
kegiatan ekstra dan administrasi yang diberikan dari sekolah sehingga banyak
waktu luang yang dimiliki mahasiswa PPL tanpa melakukan aktifitas di sekolah
tersebut.
4.1.4
Adanya beberapa
peserta didik yang tidak memiliki buku panduan.
4.1.5
Kemampuan
peserta didik yang beraneka ragam dan dalam rentang perbedaan yang cukup jauh
sering kali menyebabkan suasana kelas ribut.
4.2 PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH
Dalam mengatasi
masalah-masalah yang muncul selama proses kegiatan PPL ini, Penulis melakukan
beberapa pendekatan pemecahan masalah agar masalah ini tidak berlarut-larut dan
dapat mempermudah jalannya Proses PPL ini. Diantaraya sebagai berikut :
4.2.1
Melakukan
kerjasama dengan teman PPL agar meluangkan waktunya untuk kumpul di sekolah dan
memperlihatkan jadwal masing-masing agar tidak terjadi bentrok jadwal mengajar.
4.2.2
Penulis
mempelajari lebih dalam mengenai materi mencari dari berbagai sumber selain
buku panduan yang diberikan oleh guru serta mencari fenomena yang bersangkutan
dengan materi yang akan diajarkan.
4.2.3
Penulis lebih
banyak duduk di kantor dan mendengar pembicaraan para guru, bila terlihat salah
satu guru sibuk penulis mendekatinya dan meminta untuk kegiatan tersebut
dilaksanakan oleh penulis seperti menstempel buku dana bos, dan menstempel
kertas ujian. Sambil mendengar wejengan dari pendidik, serta solusi-solusi yang
ditawarkan setelah lulus sarjana.
4.2.4
Penulis
mengelola kelas dengan peserta didik yang tidak memiliki buku panduan untuk
duduk bersama temannya yang memiliki. Serta sebagian dari itu pendidik meminta
kelas lain yang memiliki buku untuk meminjamnya.
4.2.5
Mengatasi
masalah keempat ini, Penulis mengambil
lagkah pemecahan dengan menggunakan metode yang menggali keatifan siswa, agar
keributan yang tercipta dikelas menjadi keributan sebab mereka berlomba-lomba
menjawab pertanyaan yang dilontarkan serta berlomba-lomba membacakan materi
yang disampaikan oleh penulis.
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Praktik
Pengalaman Lapangan (PPL) telah memberikan banyak kontribusi bagi seluruh
mahasiswa utamanya penulis dalam peningkatan kemampuan dan pengalaman untuk
menjadi seorang tenaga pengajar yang handal dan mampu mengatasi masalah-masalah
pendidikan yang dihadapi selama melakukan proses pembelajaran. Sebagai calon
tenaga pendidik, perlu diberikan banyak bekal dan kompetisi yang sangat
mendukung berupa pengalaman dalam beradaptasi dengan lingkungan madrasah dan
beradaptasi dengan calon peserta didik yang akan dijumpainya kelak.
Dalam Praktik
Pengalaman Lapangan, Penulis dihadapkan pada suatu permasalahan yang bersumber
dari peserta didik tepatnya di MA DDI Lil-Banat Parepare dan dituntut untuk
memecahkan permasalahan yang tengah dihadapi agar masalah-masalah seperti ini
kelak akan menjadi suatu gambaran dalam mengatasi masalah peserta didik dan
tidak mengalami kewalahan dalam permasalahan yang serupa.
Mengingat
penting dan sangat bergunanya kegiatan seperti ini maka seluruh mahasiswa yang
merupakan calon tenaga pendidik perlu mengikuti kegiatan seperti ini.
5.2 SARAN
Dalam Kegiatan
Praktik Pengalaman Lapangan ini, tentunya mendapatkan hambatan dan pendukung
dalam pelaksanaannya sehingga penulis berinisiatif untuk memberikan saran-saran
yang dapat menjadi pertimbangan untuk
pelaksanaan PPL kedepannya yang lebih baik sebagai berikut :
5.2.1
Peserta Praktik
Pengalaman Lapangan (PPL) sebaiknya dibekali lebih banyak hal baik itu dari
materi, metode, strategi dan hal-hal lain yang dibutuhkan sebelum dilepas ke
lokasi PPL utamanya memperbanyak microteaching.
5.2.2
Peserta Praktik
Pengalaman Lapangan (PPL) seharusnya diberikan lebih banyak lagi kegiatan
ekstra selain proses belajar mengajar agar Mahasiswa PPL mempunyai gambaran
yang cukup tentang administrasi sekolah.
5.2.3
Jumlah Pertemuan dan durasi PPL
dan proses belajar mengajar sebaiknya sedikit ditambah agar mahasiswa PPL lebih profesional lagi dalam mengajar.
5.2.4
Sebaiknya guru
pamong dan dosen pembimbing memberikan arahan dan bimbingan lebih maksimal lagi
serta melakukan komunikasi yang baik agar peserta PPL tidak kebingunan saat di
lokasi karena berbeda dari yang diperkirakan.
5.2.5
Sebaiknya guru
pammong memberikan materi yang sesuai dengan baground mahasiswa agar
pengalamannya bersama dengan peserta didik lebih banyak untuk mengetahui
kemampuan intelektual serta psikologisnya sehingga terjalin keakraban yang
menyatuhkan silaturahim. Agar mahasiswa mampu mengukur kemampuannya dalam
mengajar.
Langganan:
Komentar (Atom)