Sabtu, 09 September 2017

MEMBUDAYAKAN MEMBACA DITENGAH MARAKNYA PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DENGAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI KANTIN BACA

Pendahuluan
Description: C:\Users\IniLaptop\Documents\Documents\menulislah\lomba\DSC00348.JPGSalah satu jembatan menambah ilmu pengetahuan melalui perpustakaan. Setiap kampus di Parepare memiliki perpustakaan salah satunya STAIN Parepare. Mahasiswa menjadikan perpustakaan sebagai tempat mencari referensi, kerja tugas dan terkadang menjadi tempat selfie. Data yang diperoleh tercatat 3263 anggota yang aktif di perpustakaan STAIN Parepare dan 10 mahasiswa yang paling aktif berkunjung di perpustakaan.[1] “Biasanya dalam  perhari  terdapat 250 pengunjung, paling sedikit 200 dan paling banyak pernah mencapai 500 pengunjung,” tutur Subhan Saleh bidang IT Perpustakaan STAIN Parepare. Data tersebut terlihat bahwa budaya membaca mahasiswa masih kurang dari 3263 anggota, perhari hanya 250 yang sering berkunjung.
Pengertian perpustakaan
Text Box: 1Menurut beberapa ahli yaitu Radom House dalam bukunya Dictionary of the English Language, perpustakaan adalah suatu tempat, berupa sebuah ruangan atau gedung yang berisi buku dan bahan lain untuk bacaan, studi ataupun rujukan.[2] Selain itu menurut Ensiklopedia Britannica bahwa sebuah perpustakaan adalah himpunan bahan-bahan tertulis atau tercetak yang diatur dan diorganisir untuk tujuan studi dan penelitian atau pembacaan umum atau kedua-duanya. Dilihat dari segi UU nomor 25 tahun 2000 tentang program pembangunan Nasional (propenas) menjelaskan bahwa perpustakaan merupakan sumber daya pendidikan yang penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan prasekolah, pendidikan dasar dan menengah.
Text Box: 2Perpustakaan memberikan kontribusi, konstruktif, menyajikan data yang akurat, penunjang keberhasilan proses perkuliahan dengan cara membaca buku. Berbeda dengan menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer membuka situs-situs yang tidak berhubungan dengan perkuliahan, dan berkunjung ke perpustakaan membuka mata bahwa pengetahuan masih minim sehingga menarik bagi mahasiswa untuk membaca.
Media Sosial Vs Perpustakaan
Era digital segalanya mudah diakses, tak perlu berlama-lama lagi membuka lembaran demi lembaran, membolak balik daftar isi mencari bacaan yang diinginkan cukup dengan tombol enter. Media berasal dari bahasa Latin yang mempunyai arti antara. Makna tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk membawa suatu informasi dari suatu sumber kepada penerima.[3]
Teknologi memberikan dampak positif dan negatif namun hal itu kembali lagi pada para pengguna media sosial. Kecenderungan mahasiswa beralih ke media sosial karena adanya yang kurang dari perpustakaan. “Saya jarang berkunjung ke perpustakaan karena referensi yang saya cari tidak ada dan itu kebanyakan berkaitan dengan mata kuliah wajib, buku-buku yang tersedia masih terbatas sehingga saya memilih media sosial sebagai bahan rujukan, cepat meski bacaan tersebut kurang terpercaya,” ungkap salah satu mahasiswa prodi pendidikan agama Islam. Kenyataannya mahasiswa sudah tahu bahwa media belum sepenuhnya menyajikan informasi fakta, namun meski begitu pilihan ke media menjadi pelarian mahasiswa akan keterbatasan. “Hal yang membuat saya betah berkunjung ke perpustakaan, saya suka melihat berbagai macam buku berjejeran rapi di rak, selain itu saya merasa nyaman di perpustakaan dan bertemu dengan berbagai mahasiswa berbeda prodi, namun sayangnya buku yang tersedia kurang update karena hampir tiap bulan buku yang terlihat masih sama dengan sebulan lalu, karena itu terkadang internet sebagai bacaan,” tutur mahasiswa. 
Text Box: 3Media memiliki ketertarikan sendiri untuk menarik perhatian mahasiswa, namun sejauh apapun canggihnya media sosial tetap, mahasiswa memilih perpustakaan sebagai bahan rujukan, dibanding mediah sosial. Beberapa hal yang dapat melaraskan penggunaan media sosial dengan perpustakaan:
1.        Mengoptimalkan penggunaan media dalam perpustakaan untuk memudahkan mahasiswa mencari buku. Yaitu daftar menu bacaan yang disediakan pada komputer sehingga mahasiswa tidak kesulitan mencari buku di rak yang berjejeran.
2.        Tersedianya menu bacaan terbaru setidaknya setiap bulan, pengunjung akan tertarik menunggu hal tersebut dan menyelesaikan bacaan secepat mungkin karena akan ada bacaan terbaru.
3.        Dosen meningkatkan pemberian tugas kepada mahasiswa yang mengharuskan mencari referensi agar memancing berkunjung ke perpustakaan dan memberikan vitamin pada pikiran.
4.        Menyediakan tempat khusus berdiskusi dilengkapi dengan berbagai buku yang cocok untuk didiskusikan, sehingga pengunjung yang lain tidak terganggu akan keributan yang tercipta di perpustakaan.
5.        Tersedianya fasilitas wifi.
Zaman boleh berubah, bacaan tersebar di mana-mana mudah dijangkau lewat media sosial. Perpustakaan juga harus ditingkatkan dengan memperbaiki segala fasilitas, salah satunya teknologi kepada pengunjung untuk memudahkan mengakses buku yang hendak dibaca. Antara media sosial dengan perpustakaan satu sama lain saling menguntungkan bagi para pengunjung dan berita hoaxpun bisa ditangani asal punya ilmu, salah satu cara memiliki pengetahuan lewat membaca, karena membaca merupakan jendela dunia. Banyak membaca di perpustakaan banyak pembendaharaan kata semakin banyak membaca semakin pintar, samahalnya semakin banyak makan semakin kuat. Perpustakaan menjadi tempat utama bagi mahasiswa saat jam istirahat tiba, tempat menghilangkan dahaga, tempat favorit menyantap bacaan, berwisata ke berbagai tempat dengan duduk di perpustakaan menjadi kantin utama bagi pembaca.
Text Box: 4Perpustakaan sebagai kantin baca?
Description: C:\Users\IniLaptop\Documents\Documents\menulislah\lomba\perpustkaan.jpgUmumnya kantin berisi berbagai menu makanan, mulai dari yang ringan sampai makanan berat. Tapi bagaimana dengan perpustakaan sebagai kantin baca? Apakah itu tempat mengenyangkan perut, tempat bersantai atau malah sebaliknya perpustakaan malah tidak membuat mahasiswa kenyang namun membuatnya haus! Berkunjung ke perpustakaan terasa haus akan ilmu, jaminan perpustakaan menghilangkan dahaga, mengenyangkan pikiran namun tetap saja itu kurang menarik bagi mahasiswa.
Padahal perpustakaan menyediakan berbagai menu, mulai dari pendidikan, agama, budaya, sosial, bahasa dan berbagai macam berlebelkan halal bagi pikiran. Pengunjung bisa menjelajahi berbagai daerah, negara, tempat wisata. Dengan memilih salah satu buku mampu mengajak pembaca berkelana dengan merangsang imajinasi berkeliaran sebagaimana yang tertera di buku.
Perpustakaan sebagai kantin memberikan pelayanan berbeda dari biasanya, mahasiswa apabila ke kantin umum akan membayar setelah makanan sedangkan kantin perpustakan, mahasiswa yang berhasil menyelesaikan bacaan akan mendapat bayaran (semisal wafer) dari perpustakaan semakin banyak bacaan yang diselesaikan makin banyak pula bayaran. Sehingga bagi mahasiswa yang menghabiskan waktu luangnya di perpustakaan selain mengenyangkan perut menghilangkan rasa haus juga mendapat bayaran (makanan gratis) sebagai apresiasi dari perpustakaan. Makin banyak bacaan makin banyak pula penghargaan, dan hal ini tentu membutuhkan kerjasama dengan berbagai pihak yang ada di kampus bukan hanya perpustakaan.
Text Box: 5Kesimpulan
Media sosial merambat berbagai wilayah yang memiliki jaringan, perpustakaan tetap menjadi hal utama dengan meningkatkan informasi-informasi. Pelayanan maksimal dan bersahabat terhadap pengunjung memberikan kenyamanan.
Seiring berkembangnya media peningkatan budaya baca harus ditumbuhkan salah satunya lewat media sosial dengan menyajikan informasi-informasi yang berhubungan dengan perkuliahan sebagai pancingan untuk menarik perhatian pembaca. Selain  itu secanggih apapun media sosial mahasiswa akan tetap memilih perpustakaan sebagai kantin mengenyangkan pikiran melepas dahaga, informasi yang disajikan lebih terpercaya dibanding media sosial yang terdapat informasi hoax (berita bohong).
Perpustakaan sebagai kantin akan mewariskan budaya membaca kepada pengunjung dan berimbas terhadap kemajuan mutu pendidikan di kampus STAIN Parepare.






DAFTAR PUSTAKA
B. Uno Hamzah, Nina Lamatenggo. 2014. Teknologi Komunikasi & Informasi Pembelajaran. Cet. III; Jakarta: PT Bumi Aksara.
Perpustakaan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Parepare
FebriyaniSetiawan.DefinisiPerpustakaanMenurutBeberapaAhli.
Text Box: 6
 



[1] Perpustakaan STAIN Parepare
[2]Febriyani Setiawan, Definisi Perpustakaan Menurut Beberapa Ahli. http://Febriyani23.blogspot.com/2013/11definisi-perpustakaan-menurut-para-ahli.html (diakses pada tanggal 10 april 2017).
[3]Hamzah B. Uno, Nina Lamatenggo, Teknologi Komunikasi & Informasi Pembelajaran (Cet.III. PT Bumi Aksara, Jakarta: 2014), h. 121.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar