Salah satu
jembatan menambah ilmu pengetahuan melalui perpustakaan. Setiap kampus di
Parepare memiliki perpustakaan salah satunya STAIN Parepare. Mahasiswa
menjadikan perpustakaan sebagai tempat mencari referensi, kerja tugas dan
terkadang menjadi tempat selfie. Data yang diperoleh tercatat 3263 anggota yang
aktif di perpustakaan STAIN Parepare dan 10 mahasiswa yang paling aktif
berkunjung di perpustakaan.[1]
“Biasanya dalam perhari terdapat 250 pengunjung, paling sedikit 200
dan paling banyak pernah mencapai 500 pengunjung,” tutur Subhan Saleh bidang IT
Perpustakaan STAIN Parepare. Data tersebut terlihat bahwa budaya membaca
mahasiswa masih kurang dari 3263 anggota, perhari hanya 250 yang sering
berkunjung.
Pengertian perpustakaan
Media Sosial Vs
Perpustakaan
Era digital segalanya mudah diakses, tak perlu berlama-lama lagi
membuka lembaran demi lembaran, membolak balik daftar isi mencari bacaan yang
diinginkan cukup dengan tombol enter. Media berasal dari bahasa Latin yang
mempunyai arti antara. Makna tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi
yang digunakan untuk membawa suatu informasi dari suatu sumber kepada penerima.[3]
Teknologi memberikan dampak positif dan negatif namun hal itu
kembali lagi pada para pengguna media sosial. Kecenderungan mahasiswa beralih
ke media sosial karena adanya yang kurang dari perpustakaan. “Saya jarang
berkunjung ke perpustakaan karena referensi yang saya cari tidak ada dan itu
kebanyakan berkaitan dengan mata kuliah wajib, buku-buku yang tersedia masih
terbatas sehingga saya memilih media sosial sebagai bahan rujukan, cepat meski
bacaan tersebut kurang terpercaya,” ungkap salah satu mahasiswa prodi
pendidikan agama Islam. Kenyataannya mahasiswa sudah tahu bahwa media belum
sepenuhnya menyajikan informasi fakta, namun meski begitu pilihan ke media
menjadi pelarian mahasiswa akan keterbatasan. “Hal yang membuat saya betah
berkunjung ke perpustakaan, saya suka melihat berbagai macam buku berjejeran
rapi di rak, selain itu saya merasa nyaman di perpustakaan dan bertemu dengan
berbagai mahasiswa berbeda prodi, namun sayangnya buku yang tersedia kurang update
karena hampir tiap bulan buku yang terlihat masih sama dengan sebulan lalu,
karena itu terkadang internet sebagai bacaan,” tutur mahasiswa.
1.
Mengoptimalkan
penggunaan media dalam perpustakaan untuk memudahkan mahasiswa mencari buku.
Yaitu daftar menu bacaan yang disediakan pada komputer sehingga mahasiswa tidak
kesulitan mencari buku di rak yang berjejeran.
2.
Tersedianya
menu bacaan terbaru setidaknya setiap bulan, pengunjung akan tertarik menunggu
hal tersebut dan menyelesaikan bacaan secepat mungkin karena akan ada bacaan
terbaru.
3.
Dosen
meningkatkan pemberian tugas kepada mahasiswa yang mengharuskan mencari
referensi agar memancing berkunjung ke perpustakaan dan memberikan vitamin pada
pikiran.
4.
Menyediakan
tempat khusus berdiskusi dilengkapi dengan berbagai buku yang cocok untuk
didiskusikan, sehingga pengunjung yang lain tidak terganggu akan keributan yang
tercipta di perpustakaan.
5.
Tersedianya
fasilitas wifi.
Zaman boleh berubah, bacaan tersebar di mana-mana mudah dijangkau
lewat media sosial. Perpustakaan juga harus ditingkatkan dengan memperbaiki
segala fasilitas, salah satunya teknologi kepada pengunjung untuk memudahkan
mengakses buku yang hendak dibaca. Antara media sosial dengan perpustakaan satu
sama lain saling menguntungkan bagi para pengunjung dan berita hoaxpun bisa
ditangani asal punya ilmu, salah satu cara memiliki pengetahuan lewat membaca,
karena membaca merupakan jendela dunia. Banyak membaca di perpustakaan banyak
pembendaharaan kata semakin banyak membaca semakin pintar, samahalnya semakin
banyak makan semakin kuat. Perpustakaan menjadi tempat utama bagi mahasiswa
saat jam istirahat tiba, tempat menghilangkan dahaga, tempat favorit menyantap
bacaan, berwisata ke berbagai tempat dengan duduk di perpustakaan menjadi
kantin utama bagi pembaca.
Umumnya kantin
berisi berbagai menu makanan, mulai dari yang ringan sampai makanan berat. Tapi
bagaimana dengan perpustakaan sebagai kantin baca? Apakah itu tempat
mengenyangkan perut, tempat bersantai atau malah sebaliknya perpustakaan malah
tidak membuat mahasiswa kenyang namun membuatnya haus! Berkunjung ke
perpustakaan terasa haus akan ilmu, jaminan perpustakaan menghilangkan dahaga,
mengenyangkan pikiran namun tetap saja itu kurang menarik bagi mahasiswa.
Padahal perpustakaan menyediakan berbagai menu, mulai dari
pendidikan, agama, budaya, sosial, bahasa dan berbagai macam berlebelkan halal
bagi pikiran. Pengunjung bisa menjelajahi berbagai daerah, negara, tempat wisata.
Dengan memilih salah satu buku mampu mengajak pembaca berkelana dengan
merangsang imajinasi berkeliaran sebagaimana yang tertera di buku.
Perpustakaan sebagai kantin memberikan pelayanan berbeda dari
biasanya, mahasiswa apabila ke kantin umum akan membayar setelah makanan
sedangkan kantin perpustakan, mahasiswa yang berhasil menyelesaikan bacaan akan
mendapat bayaran (semisal wafer) dari perpustakaan semakin banyak bacaan yang
diselesaikan makin banyak pula bayaran. Sehingga bagi mahasiswa yang
menghabiskan waktu luangnya di perpustakaan selain mengenyangkan perut
menghilangkan rasa haus juga mendapat bayaran (makanan gratis) sebagai
apresiasi dari perpustakaan. Makin banyak bacaan makin banyak pula penghargaan,
dan hal ini tentu membutuhkan kerjasama dengan berbagai pihak yang ada di
kampus bukan hanya perpustakaan.
Media sosial merambat berbagai wilayah yang memiliki jaringan,
perpustakaan tetap menjadi hal utama dengan meningkatkan informasi-informasi.
Pelayanan maksimal dan bersahabat terhadap pengunjung memberikan kenyamanan.
Seiring berkembangnya media peningkatan budaya baca harus
ditumbuhkan salah satunya lewat media sosial dengan menyajikan
informasi-informasi yang berhubungan dengan perkuliahan sebagai pancingan untuk
menarik perhatian pembaca. Selain itu
secanggih apapun media sosial mahasiswa akan tetap memilih perpustakaan sebagai
kantin mengenyangkan pikiran melepas dahaga, informasi yang disajikan lebih
terpercaya dibanding media sosial yang terdapat informasi hoax (berita bohong).
Perpustakaan sebagai kantin akan mewariskan budaya membaca kepada
pengunjung dan berimbas terhadap kemajuan mutu pendidikan di kampus STAIN
Parepare.
DAFTAR PUSTAKA
B. Uno Hamzah,
Nina Lamatenggo. 2014. Teknologi Komunikasi & Informasi Pembelajaran.
Cet. III; Jakarta: PT Bumi Aksara.
Perpustakaan
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Parepare
FebriyaniSetiawan.DefinisiPerpustakaanMenurutBeberapaAhli.
http://Febriyani23.blogspot.com/2013/11definisi-perpustakaan-menurut-para-ahli.html (tanggal 10 april 2017).
[2]Febriyani
Setiawan, Definisi Perpustakaan Menurut Beberapa Ahli. http://Febriyani23.blogspot.com/2013/11definisi-perpustakaan-menurut-para-ahli.html (diakses pada
tanggal 10 april 2017).
[3]Hamzah B. Uno,
Nina Lamatenggo, Teknologi Komunikasi & Informasi Pembelajaran (Cet.III. PT
Bumi Aksara, Jakarta: 2014), h. 121.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar